DEATH IS SOMETHING VISUAL

Kematian pada dasarnya adalah sesuatu yang visual. Diktum ini tentu saja spekulatif, namun di

beberapa tradisi di Indonesia misalnya, figur-rigur kematian sebenarnya dirayakan bukan semata- mata kedukaan, namun lebih pada mengingat leluhur dalam ekspresi-ekpresi yang sangat visual. Di

dalam tradisi masyarakat Toraja, Sulawesi, Indonesia, Kematian merupakan fase kehidupan yang patut dirangkul dan bahkan dirayakan, dimana pengertian tempat tinggal dan ruang membawa kompleksitas tersendiri bagi kita yang menyaksikan. Bahkan di dalam tradaisi Ma’Nene Toraja, para mayat leluhur di rias, untuk kemudian mengalami perjalanan ke tempat tinggal berikutnya. Setelah kematian, ada tahapan-tahapan lanjutan dimana para mayat (tubuh mati) dirias, dan dijalankan melalui pendekatan mistik tertentu, atau semacam dihidupkan kembali untuk menuju tempat persemayaman terakhir. Ini mendakan bahwa kematian merupakan sebuah tahapan-tahapan kehidupan, dan selalu terhubung dengan mereka yang masih hidup. Tahapan-tahapan perjalanan kehidupan bagi figur-figur yang mati ini menjadi menarik, dimana dalam tradisi visual modern, khususnya pada praktik anime, juga salah satunya memperbincangkan tema-tema nostalgia yang menghadirkan figur-figur yang telah mati. Kode-kode konvensi pada gaya visual Manga misalnya, figur-figur mulut tanpa bibir, mata yang besar, wajah yang plastis, rambut poni dan lain sebagainya yang juga pengembangan visual melalui warna, tetap membentuk proporsi elemen-elemen wajah yang tepat, adalah semacam figur-figur yang dihidupkan dalam gerak animasi, yang beberapa figurnya juga berangkat dari figur kematian. Pada film Sprited Away (2001) karya Hayao Miyazaki, yang juga mengangkat figur-figur kematian, dengan menggunakan cerita rakyat dari tradisi dan simbolisme Jepang, yang menyinggung kepercayaan rakyat Jepang. Beberapa karakter utama film seperti Yubaba (keturunan yamauba atau penyihir gunung), Kaonashi/No Face dan Kamaji (tsuchigumo atau laba-laba tanah) mengingatkan pada karakter yang ditemukan di seluruh cerita rakyat Jepang, yang coba dihidupkan kembali secara visual animatif, menawarkan refleksi secara vertikal dengan kematian dalam masyarakat Jepang.

Pertunjukan

DEATH IS SOMETHING VISUAL

Inisiator : Sugiyanti Ariani
Dramaturg : Akbar Yumni
Kolaborator : Toni Broer, Vicky Mono, D. Bulqini, Moh. Wail
Tim Artistik : Aji Sangiaji, Ipank, Jafar, Rohmat

Bekerjasama dengan: Collective lab dan Lab.Tubuh

[Ikhtisar kinerja]
Waktu dan Tanggal : 11 Januari 2025 / 19.30 - 21.00
Lokasi : Kilometer 95 Kopi

Artis

Sugiyanti Ariani

Sugiyanti Ariani lahir di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Pada tahun 2014, ia menyelesaikan pendidikan magisternya di STSI Bandung (sekarang ISBI Bandung) dengan jurusan Penelitian dan Penciptaan Seni (teater). Pada tahun yang sama, ia menerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola untuk Karya Inovatif, yang mendukung produksinya dalam menciptakan, menyutradarai, dan mementaskan Maem Mendut: Semangka Pati. Pada tahun 2018, Sugiyanti dianugerahi penghargaan Aktris Terbaik dalam Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) di Jawa Barat. Di tingkat internasional, ia berkolaborasi dengan Centre for Australasian Theatre (CfAT) di Cairns, Australia, dalam proyek Cultural Cargo – CARGO CLUB: Trading Stories (2015–2017). Antara tahun 2016 hingga 2019, ia terpilih untuk tampil dalam produksi Dionysus yang disutradarai oleh Tadashi Suzuki, sebagai bagian dari proyek kerja sama antara Bumi Purnati Indonesia dan Suzuki Company of Toga (SCOT). Produksi ini dipentaskan di SCOT Summer Festival 2018, Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2019, dan Theatre Olympics 2019 di Jepang. Saat ini, ia tengah mempersiapkan kolaborasi lanjutan dengan CfAT untuk periode 2025 dan Banda Heritage Society (Banda Neira) beserta Collective Lab (Bandung).

Akbar Yumni

Akbar Yumni, menjadi kurator Arkipel (Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival) dari tahun 2013-2018,dan menjadi kurator “Indonesian Contemporary Experimental Cinema” di Experimenta, Bangalore, India tahun 2015. Berpartisipasi dalam Curator Academy, Theater Work-Goethe Institut, Januari 2018, di Singapura. Sebagai seorang seniman, ia berkarya berdasarkan arsip-arsip filem Indonesia yang hilang selama rezim otoriter. Beberapa karyanya antara lain Reenactment Performance “Menonton Film Turang (1957)-Bachtiar Siagian” di Studio Garasi Performance Art Institute, Yogyakarta, 2018; Reenactment Performance “Menonton Film Sedap Malam (1951)-Ratna Asmara” di ArtJog Yogyakarta 2022; Reenactment Performance “Menonton Film Daerah Hilang (1956) Bachtiar Siagian”, pada Program Film Undone, di Silent Green, Berlin, Jerman, 2023. Menerima Hibah Seni Yayasan Kelola pada tahun 2020. Saat ini menjadi anggota Komite Teater dan Ketua Komisi Riset dan Kebijakan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) periode 2023-2026.

Toni Broer

Dr. Tony Supartono, S.Sn,.M.Sn, Panggilan: Tony Broer. Lahir : Jakarta, 11 Juni 1966. Pengajar Praktik di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) / ISBI Bandung. Pada 1987 masuk ASTI Bandung tamat D3 tahun 1991 bidang keaktoran. Kemudian ikut bergabung dengan Teater Payung Hitam Bandung. Tahun 1996 masuk STSI Bandung, dan tamat tahun 2001 S1 bidang penyutradaraan. Saat ini mengajar di STSI Bandung sebagai dosen bidang Dasar Olah Tubuh Aktor. Tahun 2007 masuk S2 Pascasarjana ISI Yogyakarta Bidang Penciptaan Teater. Tahun 2009 menyelesaikan pendidikan S2 dengan karya akhir Teater Tubuh dengan judul karya “Badaya Tubuh Badaya”. Kemudian melanjutkan studi doktoral di ISI YOGYAKARTA.Tahun 2002 – 2003 mendapat beasiswa Bunka Cho untuk mempelajari Teater Tradisi Jepang (Noh) dan Teater Modern Jepang (Butoh). Belajar Noh dari Shimada Sensei aliran Noh Kongo. Lalu Butoh pada Yoshito Sensei (anak Kazuo Ohno), Waguri Sensei, Moto Fuji Sensei (isteri Tatsumi Hijikata) dan Shimimaru Sensei-Sankai Juku.

Vicky Mono

Vicky Mono adalah seorang musisi heavy metal asal Indonesia, terkenal sebagai vokalis Burgerkill dan kemudian pada tahun 2022 bergabung dengan Deadsquad. Ia lahir di Bandung (6 Agustus 1984) dan mulai tertarik dengan musik sejak tahun 1996. Ia mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Padjajaran. Mono telah merilis 3 album bersama Burgerkill, termasuk 1 album EP. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri platform industri kreatif bernama Suarahgaloka yang bergerak di bidang seni budaya. Saat ini ia sedang mendalami dan mengeksplorasi Collab (singkatan dari Collective Laboratory): sebuah post-human technologizing of Performing Arts dalam kontestasi dramaturgi tradisional dan modern. Collective Laboratory (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Collab) berfokus pada pertunjukan performatif berbasis media dan teknologi. Selain itu, Collab juga merancang pameran instalasi yang mengeksplorasi suara alami dari tubuh ke dalam bentuk suara.

Deden Bulqini

Deden Bulqini aktif berkarya di dunia seni pertunjukan (teater, musik, tari dan berbagai karya kolaboratif lainnya) dan seni rupa sejak tahun 2002, termasuk di dalamnya adalah seni media baru dan seni instalasi. Ia telah berkolaborasi dengan berbagai kelompok teater, musisi, perupa di dalam dan luar negeri, serta berpartisipasi dalam berbagai festival di dalam dan luar negeri. Beberapa pencapaiannya adalah terlibat dalam proyek-proyek tersebut: “Migration Music Festival” - Taiwan (2010-2018), ‘New Narratives Film Festival’ Taiwan (2017-2018), Kolaborasi Seni Rupa dan Pertunjukan dengan Robbie Thomson - British Council (2017-2018), ‘Haptic FIELD’, Participatory Multi Sensory Installation oleh Chris Salter & TeZ - Nu Art Sculpture Park (2018), karya kolaborasi Video Art & Installation Art bersama Rubi Roesli - CASA Indonesia (2017), “ASEAN Puppet Festival” di Bangkok - Thailand (2017), karya instalasi di ART STAGE Singapura (2014), ‘FROM BORDER TO BORDER’, film dokumenter tentang migrasi orang Tionghoa di India, diproduksi oleh Trees Music & Arts Taiwan (2013), Tainan Chisi Art Festival di Tainan City Taiwan (2010), produksi teater ‘Merah Bolong’ dengan Teater Payung Hitam - Nusantara Festival 2007 di Brisbane, dll.

Deden Bulqini

Moh. Wail lahir di Sumenep Madura pada tanggal 30 Mei 1986. menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura. Pada tahun 2006, ia melanjutkan pendidikan S1 dan S2 teater di ISBI Bandung, dengan minat studi Penciptaan Seni. Ia adalah seorang dosen di Jurusan Teater ISBI Bandung. Ia adalah seorang aktor dan sutradara, pindah dan menetap di Bandung sejak tahun 2006. Terlibat dalam dunia teater sejak tahun 2002 di sebuah perkumpulan teater dan sastra Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura, di komunitas ANDALAS baik sebagai aktor maupun sutradara. Pada tahun 2006 melanjutkan studi teater di STSI/ISBI Bandung, dengan minat studi penyutradaraan. Studi magister penciptaan seni di Pascasarjana ISBI Bandung. Tahun 2007 bergabung dengan kelompok Teater CASSANOVA di Bandung sebagai aktor dan sutradara. Tahun 2013 bergabung dengan Teater Payung Hitam, di bawah pimpinan Dr. Pada tahun 2019 memprakarsai pendirian LABORATORIUM TUBUH bersama Dr. Tony Broer, yang dimaksudkan sebagai pusat latihan harian bagi para aktor. Sebuah rumah singgah bagi ide-ide praktik latihan yang tidak pernah selesai. Praktik yang sedang dilakukan di Laboratorium Tubuh; “MELAWAN GRAMATIKA TUBUH”.